Jumat, 18 Desember 2009

MUBENG BETENG

MUBENG BETENG (mengitari benteng Kraton-red)

Cerita satu malam - Sore itu dia sudah merencanakan akan berjalan sekitar pukul sepuluh malam. Waktu menunjukkan pukul 20.30 saat rencana berubah. Keluarganya akan berangkat saat itu , tanpa menunggu keluarga besar lain. Dia mutung (ambeg diri-red). Keluarganya memutuskan pergi saat itu juga, dan dia kini menunggu keluarga besar dengan keraguan diri dalam perkataan “Ora kompak!(tidak kompak-red).”

Pikirnya “Aku ora kompak ya? Berarti yang mengatakan lebih tidak kompak lagi, hahaha! Bodat!

Dia menunggu dengan syarat pukul sembilan dia akan pergi jika keluarga besar tidak segera datang. Dia menelan satu tablet vitamin C, meminum jus jambu, dan segelas air putih, resah dengan keputusan yang akan segera dia ambil, berjalan sendiri.

Ide muncul, dia menelepon tetangganya-Nia untuk menemaninya berjalan. Alasan berterbangan melalui sinyal HP-nya dengan kata ‘capek’. Dasar! Ya sudah, berjalan sendiri akan lebih fokus dan konsentrasi.

21.00, jam HPnya menunjukkan waktu digital. Keluarga besar tidak kunjung datang. Tutupan pintu rumah menjadi awal perjalanannya.

Dialah manusia berjaket Nightmare hitam, bercelana pendek hitam, berkaos oblong hitam (pecinta warna hitam) membawa jimat orang Katolik yang sering dilupakannya, Rosario putih. Bunda Maria diyakinkannya menjadi penuntun perjalanan itu. Berharap dirinya tidak digondol Wewe-seperti kata Pakdenya yang menyebalkan. Hahaha!

Plataran dekat kolam raja yang gelap dilewatinya tanpa takut, gelap tanpa lampu, tak pernah dia seberani ini. Lorong kampung dengan lampu seadanya menunjukkan topeng mengerikan di salah satu galeri kenangan akan Sang Raja Inggris. Takut-takut jika di depannya muncul sebangsa kuntilanak mencekiknya tanpa suara - hiiihhh pikiran sinting!

Kakinya menggunakan sandal ibunya. Sandal sialan! Karenanya kaki kiri kumat asam urat. Sungguh pemudi tidak sehat, masa’ remaja sudah asam urat! Sandal itu dilepaskannya, tidak dia buang, tetapi dia bawa di saku jaket Nightmare-nya. Belum masuk area kebisuan dia sudah membisu mencoba menyembuhkan kaki kirinya sambil terus berjalan.

Gerbang barat benteng barat segera sampai dihadapannya. Sambil menarik nafas panjang dia masuk dalam area kebisuan memohon agar diberi kekuatan karena dia berjalan sendirian (barangkali dia mohon agar tidak pingsan, hahaha!).

Sekarang tangan kanannya memegang erat jimat yang tidak sering disentuhnya. Berdoa dalam pikiran- Rosario tanpa peristiwa, karena dia tidak hapal (bahkan awal doa ‘Aku Percaya’ dia blank.) Sesekali dia membisikan dalam pikirannya permohonannya yang paling diutamakan. Melalui leluhurnya dia yakin akan tersampaikan.

Benteng barat dan gerbang selatan (JokTeng Kulon & Plengkung Gading) dilewatinya. Telapak kakinya yang telanjang masih menapaki aspal tanpa lecet. Kulit kakinya yang agak tebal membawa keberuntungan. Keringat mengucur di wajahnya sejak benteng barat terlewat, sesekali dia usap dengan telapak tangannya. Rombongan mubeng beteng lain juga terlihat, masing-masing berjauhan. Dan dia sendiri melesat melewati rombongan-rombongan itu- dia benar-benar digondol Wewe ya?

Apa kata Pakdenya dari sejak pertama dia berjalan dulu? Pertama kali kelas 2 SD, dengan tidak dalam kebisuan. Barulah 4 SD dia berjalan lagi dan untuk seterusnya juga. Melesat. Digondol Wewe untuk pertama kalinya. Rombongan keluarga besarnya kesulitan mengejarnya. Wali-nya yang bertongkat payung tertatih di belakang mengejar dengan setengah berlari . Dia sampai pertama. Si bocah 4 SD ini bandel sekali. Pergi-menghilang-melesat-tanpa memikirkan kekhawatiran yang dibelakangnya, hahaha. Sungguh digondol Wewe anak itu.

Cerita lama itu hampir dan akan berulang kembali saat dia menemukan rombongan keluarganya yang berangkat mendahului, nanti.

Terkadang pengunjung satu dua warung di trotoar yang melihatnya berjalan sendiri menertawakannya. Walau tahu, dia tetap memfokuskan diri dalam doa. Jiwa yang spiritual dan mendekatkan diri pada Tuhan dalam kebudayaan Jawa masa lampau menurutnya sangat bagus untuk keanggunan orang Jawa. Kekentalan tradisi harus ada, pikirnya menerawang sedikit.

Salam Maria, keberapa kalinya ya? Sepertinya sudah ada tiga kali lima puluh Salam Maria saat dia melintas di depan Purawisata. Saat itu dia masih belum menemukan anggota keluarga yang mendahuluinya. Terkadang pula kakinya sakit, dan terkadang ringan sekali. Rombongan demi rombongan dia susul. Satu hal terlihat yang paling membuatnya kagum- Nenek tua berkebaya, berjarik, melangkah sendirian. Sungguh melegakan memiliki teman yang juga berjalan sendiri. Tapi dia melangkah lebih cepat, kekuatan muda selalu lebih kuat daripada kekuatan tua, dan dia melesat juga meninggalkan seorang nenek yang dikaguminya itu.

Buyar dengan Salam Maria, di tangannya masih tergenggam Rosario putih tetapi doanya sekarang hanya memohon kekuatan, kebijaksanaan, serta petir yang dapat membuat hidupnya lebih baik. Ya, petir, tidak apalah, suatu kepahitan seharusnya dapat memunculkan sesuatu yang manis. Tanpa pahit mana tahu rasa manis?

Benteng timur, benteng yang tidak kelihatan, runtuh katanya. Dekat dengan sekolahnya saat itu. SMP Maria Immaculata. Terlintas pikiran ‘Bu Nanik dimana ya?’ Hahaha! Dia guru Bahasa Indonesianya, kata Bu Endah-Bu Bahasa Jawa, Bu Nanik akan ikut mubeng beteng juga, tapi mungkin beliau masih terjun dalam kebisuan nanti malam. Sedangkan Bu Bahasa Jawa beralasan rumahnya jauh.

Belokan benteng membawanya melihat anggota rombongan. Wew! Dia berpikir ternyata cepat sekali dia berjalan sampai bisa terkejar. Memang, rombongan keluarga pertama lama dalam berjalan. Mungkin bagimu yang membaca catatan ini tidak lama, karena mereka sebenarnya berjalan biasa. Dan si anak yang digondol Wewe itulah yang berjalan cepat sekali.

Kini dia tersenyum, tidak mendahului, ingin memberi kejutan di Alun-Alun Utara. Dengan sabar dia mencoba memelankan laju kakinya. Mereka tidak sadar, anak yang dikatai tidak kompak itu sudah berada dalam kekompakan mereka. Tiga puluh menit sudah waktu terkejar.

Menjaga jarak itu mudah. Dan mereka kini sudah sampai di gerbang Alun-Alun Utara. Si kakak melihatnya seketika saat dia menyejajarkan diri di dekatnya. Mereka berdua tersenyum. Seketika itu juga si kakak mencoba mengikuti kecepatan Wewe adiknya itu.

Menyeberangi pasir Alun-Alun, tanpa sandal masih pula dia bertahan. Sakit, iya, tapi tak masalah. Dia menuju depan Keraton dan membuat tanda salib. Sambil berkata dalam hati dan pikiran ‘Terima Kasih Tuhan.’ Rombongan keluarga itu terpisah-pisah.

Dia sekarang sadar sandal kanan ibunya yang dibawanya dari rumah tadi, pasangan sandal maut pembuat kambuh asam urat itu hilang. Terjatuh, atau mungkin dicuri dalam desakan orang Alun-Alun, hahaha, masa bodoh.
Dia berjalan lagi dengan terus menggunakan kecepatan Wewe. Ibunya sudah diseberang dan ketika melihatnya, dia berbicara. Ibunya tidak memperdulikan tradisi membisu. Dan itu sangat menyebalkan. Dia tidak menanggapi. Orang Solo yang betengnya kecil, menyebalkan!

Dia terasuk lagi kecepatan Wewenya dan sekarang agak setengah berlari, tidak peduli kakinya lecet atau tidak. Karena tidak sakit, dan itu aneh bagi anggota keluarganya yang lain.

Benteng utara, Pojok Beteng Lor, dia lewati akhirnya. Dan dia masih menggenggam Rosario putihnya, mengucapkan permohonan dan rasa terimakasih yang besar secara bergantian berkali-kali pada Sang Pencipta.

Hampir akhir perjalanan membuatnya lebih bersemangat. Dia sekarang berlari, menerobos beberapa rombongan di depannya, ke depan pintu gerbang barat. Gerbang yang sama untuk memulai perjalanan, diakhiri pula di situ.

Sang kakak menyusulnya. Dan tanda salib lagi di gerbang, satu tarikan nafas panjang lagi, dan tertawa senang. Untung juga saat dia bersiap pergi sendiri dia juga membawa uang, dia membeli dua gelas es teh, sambil menunggu anggota keluarga lain yang mendahului. Perjalanan tanpa sandal menyenangkan.

Es teh habis dalam satu menit, dan beberapa menit kemudian rombongan keluarga pendahulu itu datang, langsung pulang, tidak tahan berhenti, dengan ketakutan tidak bisa berjalan lagi. Hahaha!

Di rumah.. saat dia sedang mengetik suatu kisah di komputer, rombongan keluarga besar baru datang dari perjalanan mubeng beteng juga. Pakdenya, sekali lagi berkata “Dek’e i memang cepet banget kok

Yang paling muda membuktikan dia yang paling kuat, karena ada Wewe eh, salah, karena ada Bunda Maria yang membawanya terbang dengan telanjang kaki. Sampai akhirnya dia yang paling muda itu menuliskan kisahnya pada kalian malam itu juga, karena dia kuat! Inilah kisahnya, kisah yang sudah kau baca…

Salam!

postscriptum: menandingi kecepatan prajurit Kraton yg katanya melegenda juga kecepatan kakinya saat mubeng beteng, menyenangkan.

Rabu, 02 Desember 2009

Untuk Soal Pendidikan Kewarganegaraan, yang kuminta maaf karena sudah kubuang ditempat yang layak… Hahaha!!!

Konstitusi? Bukankah itu tidak lebih dari kepercayaan pada kepalsuan? Pada awalnya, dia dibuat sebagai mandat rakyat untuk kebebasan. Tapi kenyataannya sekarang, konstitusi tidak lebih dari penjara ketidakadilan. Di balik jerujinya, kita hanya bisa menatap politik tanpa etika, kekayaan tanpa kerja keras, sains tanpa humanitas,peribadatan tanpa pengorbanan, perniagaan tanpa moralitas, pengetahuan tanpa karakter, dan kesenangan tanpa nurani ….”-Attar Malaka
Kau menjejakan kaki dengan keras saat keluar ruangan itu. Kau berjalan sambil menghentakkan kakimu. Kau marah. Kertas soal di tanganmu kau remas. Matamu menyala melotot. Tetapi pikirmu hanya bertanya, mengapa.

Kau sekarang menyesal, tetapi bukan itu yang kau tunjukkan. Kau ingin berteriak, namun kau masih memegang kendali. Nafasmu mulai surut, lama kau menghirup campuran oksigen, dan kini kemarahanmu berangsur mereda, meninggalkan sesosok mata kelabu, air wajah yang suram, dan bibir mengatup tanda kesebalanmu masih tertanam. Kau putuskan untuk bermarah-marah ria nanti.

Melupakan, sesuatu yang patut diberi acungan jempol saat itu kepadamu. Beralih ke sudut koridor, kau terduduk dan mulai membuka buku, lagi, seperti biasa. Tanpa berucap kata, kau mengabaikan temanmu yang cerewet bertanya.

Hingga akhirnya kau keluar kembali dari ruangan yang sama. Dengan gontai kau melangkah menuju gerbang. Matamu memandang jauh, melangkah tanpa roh.

Tujuan perjalanan pulang, rumah. Kau masih gontai dan lupa akan apapun yang kau lihat dan pikirkan selama perjalanan tadi. Hahaha! Kau tertawa demikian kerasnya, tak masalah. Hingga kau menemukan sebuah buku, UUD 1945.

Amandemen UUD 1945 dengan sampul jingga, kau lihat berada di atas kaca mejamu. Segera kau menghampirinya, sigap, hampir seperti kucing menerkam tikus. Nafasmu memburu, kau buka halaman pertama. Dan segera jantungmu berhenti berdetak. Satu detik, dua detik, dengan keheningan yang tiba-tiba. Kau masih hidup. Kemarahanmu buktinya. Segera kau banting buku itu. Berpuluh pasal didalamnya mengingatkanmu sesaat tentang perjuangan leluhur bangsa. Persetan!

 Kau tidak berteriak marah, tidak menggeram, tidak pula menangis. Tanpa suara. Kau mengambil kembali buku yang tak lebih dari lima puluh lembar itu. Idemu memerintah untuk merobek halaman-halamannya. Tidak jadi. Segera ide lain muncul. Sekarang lembaran UUD itu ada di bawah sepatumu, menjadi saksi bisu sebuah bangsa dengan orang-orangnya yang bodoh. Kau injak-injak, hingga sama dengan warna duniamu saat itu, kelabu.

Kau biarkan sesaat Amandemen UUD 1945 itu menangis di bawah kakimu. Kertas soal dalam tasmu, yang sudah kau remas tak berbentuk kau lemparkan ke tempat sampah dekatmu. Begitu pula Amandemen UUD 1945 yang berada di bawah kakimu. Kau lemparkan ke tempat sampah. Tempat yang sungguh layak, pikirmu.

 (2009) 

Sabtu, 21 November 2009

Tidak Mengkampung, Untuk Tetangga Kampungan

Kau kata kita saudara
Sesama katamu

Kulihat kau mapan
Kau bilang juga kau mampu

Apa kau dengar suatu malam
Ketika hening dalam pembicaraan
Teretuslah satu kata saja

PERAS!
Ya! KITA DIPERAS!

Hitungan manipulasi kautambahkan
KKN dalam masyarakat!

Hati seorang ibu terbakar!
Satu marah untuk menindak tegas...
Sedangkan yang lain
Menerimanya dengan senyum

Dasar...calo!
Kau sama seperti anakmu
Jelas!
Kau ibunya!
SAMA SAJA!

Tidak mendengar ini bagus untukmu

Karena dalam kebesaran
Akan ada saat semua berbalik

SERBU! kataku...

(2009)

Kamis, 19 November 2009

Sang Canangium Odoratum

Inginku kau kupanggil Guru Uban
Tetapi kau belum beruban
Jika kupanggil kau dengan sebutan Melati Putih
Kau belum layak menjadi Melati Putih

Bagaimana dengan Kenanga?
Kenanga yang akan menjadi kenangan

Hitungan dimulai musim kemarau
Diakhiri musim kemarau jua
Kering kerontang merantau
Untuk kenanga yang menua

Kenanga wangi di kamis malam
Biarkan menjadi kenangan suram

Aku sang panah perak
Tak miliki kuasa menyerah
Keperakanku menghilang kelak
Dalam niat berbalik arah

Ya, biarkanlah panah perak
Mengendap menjadi kerak

(2009)

Gombal!

tak nyana
kain kotor di pojok ruang
pencipta ilham kata

gombal!
kau kata begitu

gombal!
kujawab pula begitu

gombalku ada pada tingkah
gombalmu ada pada kata

serapahan kami gombal
tetapi nasihatmu pula gombal

aku terperangah
bukan karena kegombalanmu
hanyalah logatmu
sempurna terdengar

ah..
andai saja ku bisa kembali ke masa
aku ingin melihat
tiadakah gombalmu

(2009)

Dibalik Layar; Guru Uban

--Suatu Malam dengan Keheningan yang Terpecah oleh Suara Mesin Tik Guru Uban--

"Cobalah kau dengarkan suara dari rumah Guru Uban, nak. Mesin tik itu beradu suara di tangannya. Tergesa membuat irama yang teratur.Dengan suara khas spasinya. Guru Uban, guru yang pandai bercerita tentang sejarah, mengerti bahwa generasimu membutuhkan cerita,"Kata seorang tetangga Guru Uban kepada anaknya.
"Apa yang sedang dia tuliskan, pak?"tanya anaknya.
"Tidak tahu anakku, dia yang pasti sedang berjuang mengubah dunia," jawab ayahnya singkat.
"Di era komputer ini pak? Apa artinya ketikan yang dia buat kalau begitu? Bukankah selembar kertas yang keluar dari mesin tik sekarang sudah tak ada peminat untuk membacanya?"Tanya anaknya lagi.
"Hus! Kamu tak tahu apa-apa, nak. Bersyukurlah kamu masih memiliki guru yang sederhana, tidak perlu memakai segala macam perangkat zaman sekarang, seperti mereka yang mengatakan dirinya modern."Kata ayah anak itu menasehati.
"Tapi pak,-"anak itu mencoba menyangkal, tetapi segera dipotongnya ucapannya oleh ayahnya itu.
"Dia memiliki cara tersendiri, nak. Melalui Tujuh Dosa Sosial..." segera mesin ketik itu berhenti bersuara, kembali menghanyutkan akhir percakapan keduanya dalam keheningan malam.

post scriptum: tetangga ini juga anggota Koppassus Sandhi Yudha.
(versi Lyra ya, bukan versi E.S, tidak ada dalam buku, hanya ada dalam pikiran imajinasi Lyra tentang di balik layar bab Guru Uban)

Untuk Mata Aksara

tentangmu
tentang mata

saranmu
apakah berlaku
pada seorang buta

jangan tulis yang kau dengar
melainkan apa yang kau lihat

kenyataan adalah yang terlihat
den pembiasan untuk yang kau dengar
lagi, apakah berlaku
pada titik warna hujan?

bilamana mataku kering
bilamana mataku menjadi buta

akankah aku menulis tentang kegelapan?

atukah aku
menulis tentang mereka
pendengung kata kasihan di telingaku...

(2009)