MUBENG BETENG (mengitari benteng Kraton-red)
Cerita satu malam - Sore itu dia sudah merencanakan akan berjalan sekitar pukul sepuluh malam. Waktu menunjukkan pukul 20.30 saat rencana berubah. Keluarganya akan berangkat saat itu , tanpa menunggu keluarga besar lain. Dia mutung (ambeg diri-red). Keluarganya memutuskan pergi saat itu juga, dan dia kini menunggu keluarga besar dengan keraguan diri dalam perkataan “Ora kompak!(tidak kompak-red).”
Pikirnya “Aku ora kompak ya? Berarti yang mengatakan lebih tidak kompak lagi, hahaha! Bodat!”
Dia menunggu dengan syarat pukul sembilan dia akan pergi jika keluarga besar tidak segera datang. Dia menelan satu tablet vitamin C, meminum jus jambu, dan segelas air putih, resah dengan keputusan yang akan segera dia ambil, berjalan sendiri.
Ide muncul, dia menelepon tetangganya-Nia untuk menemaninya berjalan. Alasan berterbangan melalui sinyal HP-nya dengan kata ‘capek’. Dasar! Ya sudah, berjalan sendiri akan lebih fokus dan konsentrasi.
21.00, jam HPnya menunjukkan waktu digital. Keluarga besar tidak kunjung datang. Tutupan pintu rumah menjadi awal perjalanannya.
Dialah manusia berjaket Nightmare hitam, bercelana pendek hitam, berkaos oblong hitam (pecinta warna hitam) membawa jimat orang Katolik yang sering dilupakannya, Rosario putih. Bunda Maria diyakinkannya menjadi penuntun perjalanan itu. Berharap dirinya tidak digondol Wewe-seperti kata Pakdenya yang menyebalkan. Hahaha!
Plataran dekat kolam raja yang gelap dilewatinya tanpa takut, gelap tanpa lampu, tak pernah dia seberani ini. Lorong kampung dengan lampu seadanya menunjukkan topeng mengerikan di salah satu galeri kenangan akan Sang Raja Inggris. Takut-takut jika di depannya muncul sebangsa kuntilanak mencekiknya tanpa suara - hiiihhh pikiran sinting!
Kakinya menggunakan sandal ibunya. Sandal sialan! Karenanya kaki kiri kumat asam urat. Sungguh pemudi tidak sehat, masa’ remaja sudah asam urat! Sandal itu dilepaskannya, tidak dia buang, tetapi dia bawa di saku jaket Nightmare-nya. Belum masuk area kebisuan dia sudah membisu mencoba menyembuhkan kaki kirinya sambil terus berjalan.
Gerbang barat benteng barat segera sampai dihadapannya. Sambil menarik nafas panjang dia masuk dalam area kebisuan memohon agar diberi kekuatan karena dia berjalan sendirian (barangkali dia mohon agar tidak pingsan, hahaha!).
Sekarang tangan kanannya memegang erat jimat yang tidak sering disentuhnya. Berdoa dalam pikiran- Rosario tanpa peristiwa, karena dia tidak hapal (bahkan awal doa ‘Aku Percaya’ dia blank.) Sesekali dia membisikan dalam pikirannya permohonannya yang paling diutamakan. Melalui leluhurnya dia yakin akan tersampaikan.
Benteng barat dan gerbang selatan (JokTeng Kulon & Plengkung Gading) dilewatinya. Telapak kakinya yang telanjang masih menapaki aspal tanpa lecet. Kulit kakinya yang agak tebal membawa keberuntungan. Keringat mengucur di wajahnya sejak benteng barat terlewat, sesekali dia usap dengan telapak tangannya. Rombongan mubeng beteng lain juga terlihat, masing-masing berjauhan. Dan dia sendiri melesat melewati rombongan-rombongan itu- dia benar-benar digondol Wewe ya?
Apa kata Pakdenya dari sejak pertama dia berjalan dulu? Pertama kali kelas 2 SD, dengan tidak dalam kebisuan. Barulah 4 SD dia berjalan lagi dan untuk seterusnya juga. Melesat. Digondol Wewe untuk pertama kalinya. Rombongan keluarga besarnya kesulitan mengejarnya. Wali-nya yang bertongkat payung tertatih di belakang mengejar dengan setengah berlari . Dia sampai pertama. Si bocah 4 SD ini bandel sekali. Pergi-menghilang-melesat-tanpa memikirkan kekhawatiran yang dibelakangnya, hahaha. Sungguh digondol Wewe anak itu.
Cerita lama itu hampir dan akan berulang kembali saat dia menemukan rombongan keluarganya yang berangkat mendahului, nanti.
Terkadang pengunjung satu dua warung di trotoar yang melihatnya berjalan sendiri menertawakannya. Walau tahu, dia tetap memfokuskan diri dalam doa. Jiwa yang spiritual dan mendekatkan diri pada Tuhan dalam kebudayaan Jawa masa lampau menurutnya sangat bagus untuk keanggunan orang Jawa. Kekentalan tradisi harus ada, pikirnya menerawang sedikit.
Salam Maria, keberapa kalinya ya? Sepertinya sudah ada tiga kali lima puluh Salam Maria saat dia melintas di depan Purawisata. Saat itu dia masih belum menemukan anggota keluarga yang mendahuluinya. Terkadang pula kakinya sakit, dan terkadang ringan sekali. Rombongan demi rombongan dia susul. Satu hal terlihat yang paling membuatnya kagum- Nenek tua berkebaya, berjarik, melangkah sendirian. Sungguh melegakan memiliki teman yang juga berjalan sendiri. Tapi dia melangkah lebih cepat, kekuatan muda selalu lebih kuat daripada kekuatan tua, dan dia melesat juga meninggalkan seorang nenek yang dikaguminya itu.
Buyar dengan Salam Maria, di tangannya masih tergenggam Rosario putih tetapi doanya sekarang hanya memohon kekuatan, kebijaksanaan, serta petir yang dapat membuat hidupnya lebih baik. Ya, petir, tidak apalah, suatu kepahitan seharusnya dapat memunculkan sesuatu yang manis. Tanpa pahit mana tahu rasa manis?
Benteng timur, benteng yang tidak kelihatan, runtuh katanya. Dekat dengan sekolahnya saat itu. SMP Maria Immaculata. Terlintas pikiran ‘Bu Nanik dimana ya?’ Hahaha! Dia guru Bahasa Indonesianya, kata Bu Endah-Bu Bahasa Jawa, Bu Nanik akan ikut mubeng beteng juga, tapi mungkin beliau masih terjun dalam kebisuan nanti malam. Sedangkan Bu Bahasa Jawa beralasan rumahnya jauh.
Belokan benteng membawanya melihat anggota rombongan. Wew! Dia berpikir ternyata cepat sekali dia berjalan sampai bisa terkejar. Memang, rombongan keluarga pertama lama dalam berjalan. Mungkin bagimu yang membaca catatan ini tidak lama, karena mereka sebenarnya berjalan biasa. Dan si anak yang digondol Wewe itulah yang berjalan cepat sekali.
Kini dia tersenyum, tidak mendahului, ingin memberi kejutan di Alun-Alun Utara. Dengan sabar dia mencoba memelankan laju kakinya. Mereka tidak sadar, anak yang dikatai tidak kompak itu sudah berada dalam kekompakan mereka. Tiga puluh menit sudah waktu terkejar.
Menjaga jarak itu mudah. Dan mereka kini sudah sampai di gerbang Alun-Alun Utara. Si kakak melihatnya seketika saat dia menyejajarkan diri di dekatnya. Mereka berdua tersenyum. Seketika itu juga si kakak mencoba mengikuti kecepatan Wewe adiknya itu.
Menyeberangi pasir Alun-Alun, tanpa sandal masih pula dia bertahan. Sakit, iya, tapi tak masalah. Dia menuju depan Keraton dan membuat tanda salib. Sambil berkata dalam hati dan pikiran ‘Terima Kasih Tuhan.’ Rombongan keluarga itu terpisah-pisah.
Dia sekarang sadar sandal kanan ibunya yang dibawanya dari rumah tadi, pasangan sandal maut pembuat kambuh asam urat itu hilang. Terjatuh, atau mungkin dicuri dalam desakan orang Alun-Alun, hahaha, masa bodoh.
Dia berjalan lagi dengan terus menggunakan kecepatan Wewe. Ibunya sudah diseberang dan ketika melihatnya, dia berbicara. Ibunya tidak memperdulikan tradisi membisu. Dan itu sangat menyebalkan. Dia tidak menanggapi. Orang Solo yang betengnya kecil, menyebalkan!
Dia terasuk lagi kecepatan Wewenya dan sekarang agak setengah berlari, tidak peduli kakinya lecet atau tidak. Karena tidak sakit, dan itu aneh bagi anggota keluarganya yang lain.
Benteng utara, Pojok Beteng Lor, dia lewati akhirnya. Dan dia masih menggenggam Rosario putihnya, mengucapkan permohonan dan rasa terimakasih yang besar secara bergantian berkali-kali pada Sang Pencipta.
Hampir akhir perjalanan membuatnya lebih bersemangat. Dia sekarang berlari, menerobos beberapa rombongan di depannya, ke depan pintu gerbang barat. Gerbang yang sama untuk memulai perjalanan, diakhiri pula di situ.
Sang kakak menyusulnya. Dan tanda salib lagi di gerbang, satu tarikan nafas panjang lagi, dan tertawa senang. Untung juga saat dia bersiap pergi sendiri dia juga membawa uang, dia membeli dua gelas es teh, sambil menunggu anggota keluarga lain yang mendahului. Perjalanan tanpa sandal menyenangkan.
Es teh habis dalam satu menit, dan beberapa menit kemudian rombongan keluarga pendahulu itu datang, langsung pulang, tidak tahan berhenti, dengan ketakutan tidak bisa berjalan lagi. Hahaha!
Di rumah.. saat dia sedang mengetik suatu kisah di komputer, rombongan keluarga besar baru datang dari perjalanan mubeng beteng juga. Pakdenya, sekali lagi berkata “Dek’e i memang cepet banget kok”
Yang paling muda membuktikan dia yang paling kuat, karena ada Wewe eh, salah, karena ada Bunda Maria yang membawanya terbang dengan telanjang kaki. Sampai akhirnya dia yang paling muda itu menuliskan kisahnya pada kalian malam itu juga, karena dia kuat! Inilah kisahnya, kisah yang sudah kau baca…
Salam!
postscriptum: menandingi kecepatan prajurit Kraton yg katanya melegenda juga kecepatan kakinya saat mubeng beteng, menyenangkan.



